Senin, 27 Februari 2012

TUGAS PSIKOLOGI DEWASA USIA LANJUT ANALISIS FILM WEDDING DRESS


NAMA : MUCHOLILATUL CHOTIMAH
NIM : 0911230019

TUGAS PSIKOLOGI DEWASA USIA LANJUT
ANALISIS FILM WEDDING DRESS

I. SINOPSIS FILM
Judul film : Wedding Dress
Tanggal terbit : 14 januari 2010

Dalam film ini menceritakan tentang kondisi keluarga dimana sang ibu adalah seorang single mother. Karena suaminya telah meninggal dan dia memiliki seorang anak perempuan. Sehingga peran ibu disini bukan hanya sebagai seorang ibu tetapi juga merangkap sebagai kepala rumah tangga yang menghidupi keluarganya.
Film ini bercerita tentang seorang ibu yang berprofesi sebagai desainer baju pengantin. Si ibu memiliki seorang anak yang bernama Sora. Dalam film ini Sora diceritakan sebagai anak yang tertutup. Dia cerdas namun belum mampu bergaul dengan baik dengan teman-temannya. Ibu ini sibuk bekerja sehingga jarang memiliki waktu untuk anaknya. Sehingga Sora menjadi anak yang terbiasa sendiri dan sering kali meminta bantuan pada tantenya ketika dia membutuhkan sesuatu. Hingga pada suatu saat ibu Sora mengetahui bahwa ia menderita penyakit yang meyebabkan kematian dan hanya sedikit waktu yang dimilikinya untuk tinggal bersama Sora didunia ini. sehingga ia memutuskan untuk banyak memberikan waktu bersama sora.
Sora terkejut dengan perubahan yang dialami ibunya. Ibunya selalu menanyakan apa yang Sora inginkan. Sora menyebutkan "TV kita jelek sekali", seketika ibunya langsung membeli TV LCD dan membuang TV lamanya. Tidak hanya itu, video game, pesta ulang tahun, sepeda dan banyak lagi dibelikan oleh ibunya. Ketika Sora ulang tahun ia disuruh ibunya untuk mengundang teman-teman sekolahnya untuk pesta di rumahnya. Awalnya Sora bersedia mengundang mereka dan hampir memberikan undangan pesta ulangtahunnya kepada teman-temannya, namun niat itu ia urungkan. Ketika pulang, rumahnya sudah dihiasi segala pernak-pernik pesta ulang tahun. Sora tidak peduli. Ia ke kamar dan mengerjakan PRnya dengan memakai topi pesta ulang tahun. Ibunya merasa ada yang ganjil dan berkata, "Apakah teman-temanmu terlambat?". Sora diam. "Apakah mereka akan datang?". Sora menjawab, "mereka tidak akan datang". Ibunya pun mengarahkan Sora menghadap padanya dan berkata, "Kamu tidak boleh seperti ini, siapa yang akan mau hidup denganmu jika kau seperti ini. Ibu tidak selamanya bisa ada di sisimu untuk menjagamu". Ibunya mengatakan ini dengan mata berkaca-kaca. Sora belum mengerti apa yang dikatakan ibunya. Ibunya hanya takut meninggalkan Sora dengan keadaan Sora yang saat ini masih egois dan sulit berhubungan dengan orang lain. Apalagi Sora adalah anak yang selalu jijik dengan bekas orang lain.
Dan akhirnya Sora tahu bahwa ibunya sedang sakit parah. Setelah tahu, ia berusaha mengabulkan semua permintaan ibunya tanpa ibunya tahu bahwa Sora sebenarnya mengetahui penyakit Ibunya. Sora berusaha membuat ibunya tidak lagi kawatir dengan dirinya. Pergi les Balet, menyisir rambut sendiri, berteman dengan orang lain dan semua permintaan ibunya selama ini ia kabulkan. Puncaknya ketika ia sedang bermalam di rumah sakit. Keadaan ibunya sudah semakin parah saja, ia naik ke atas ranjang rumah sakit dan tidur bersama ibunya. Ibunya memeluknya lalu bertanya, "Apakah kau mengantuk?". Sora menjawab, "Tidak". Ibunya berkata,"Tapi, tadi aku melihat kau menguap". Sora membantah, "Tidak, Aku ingin mendengar radio dulu". Dan Sorapun jatuh tertidur. Radio masih menyala dan saat itu sang penyiar membacakan sebuah kartu ucapan yang dikirimkan ke radio. Ternyata kartu ucapan itu dari Sora untuk ibunya. Isinya kurang lebih : Ibu, engkau adalah orang yang paling aku cintai di dunia ini. Kenapa engkau sakit? Ibu sudah cukup menderita. Biarlah Sora saja yang sakit. Ibu harus sehat. Aku mencintaimu Ibu. Spontan ibunya menangis mendengarnya. Dan malam itu adalah malam terakhir Sora dan Ibunya bersama di dunia.
Pagi harinya Sora terbangun di samping ibunya. Ia berkata pada Ibunya yang sedang tertidur, "Hari ini aku tidak masuk sekolah ya, Aku ingin menemanimu seharian. Tidurlah, banyaklah istirahat". Lalu Sora turun dari ranjang dan berjalan menutup pintu kamar rumah sakit. Di luar, ia berusaha keras menahan tangis. Ia tahu bahwa ibunya telah tiada. Di saat bersamaan, beberapa dokter sedang berkeliling mengecek keadaan pasiennya. Tiba-tiba dokter-dokter itu berhenti di depan kamar Ibu Sora, mereka ingin mengecek keadaan Ibunya Sora. Tetapi Sora tidak mengijinkannya. "Ibuku sedang tidur, Ia sedang tidur. Jangan ganggu dia." kata Sora.Sora menjerit, ia mencoba menghalangi para dokter yang akan masuk ke kamar ibunya. Namun terlanjur sudah, dokter sudah masuk dan mengetahui keadaan ibunya. Sora berteriak "Jangan ambil Ibuku, Jangan ambil Ibuku!".
Akhir cerita dalam film ini ditutup ketika Sora pulang dari sekolah. Diluar sedang hujan, Sora mengeluarkan payung yang sudah disiapkannya dari rumah. Sebelum Ibunya meninggal ia selalu lupa membawa payung ke sekolah. Kini, tidak lagi. Sebelum meninggal ibunya pun telah menyiapkan sebuah desain khusus wedding dress untuk Sora. Di penghujung film, Sora yang sudah tumbuh dewasa mengenakan wedding dress yang telah dirancang Ibunya untuk dirinya.

II. ANALISIS FILM
Dalam film ini, ibu sora dinyatakan telah memasuki fase dewasa karena sesuai dengan teori yang dikeluarkan oleh dari Robert S. Feldman, penulis buku "Understanding Psychology". Dimana terrlepas dari perbedaan dalam penentuan waktu dimulainya status kedewasaan tersebut, pada umumnya psikolog menetapkan usia 20-an sebagai awal masa dewasa dan berlangsung sampai sekitar usia 40-45, dan pertengahan masa dewasa berlangsung dari usia 40-45 hingga usia 65-an, serta masa dewasa lanjut/masa tua berlangsung dari usia 65-an sampai meninggal, demikian pandangannya.
Dalam film ini tidak dinyatakan berapa umur ibu sora akan tetapi dilihat dari aktivitas yang dilakukan, wajahnya, dan tahap-tahap yang telah dilaluinya maka dapat dikatakan bahwa ibu Sora dalam tahap dewasa. Penjelasan selanjutnya akan lebih memberikan bukti bahwa ibu sora saat ini pada tahap dewasa.
A. Fisik
1. Kesehatan badan
Dalam film ini jelas dapat terlihat perkembangan fisik ibu Sora. Dimana jika dilihat secara luar terlihat bahwa Nampak belum ada keriput diwajahnya dan sehat-sehat saja. Hal ini dilihat dari bagaimana aktifitas ibu sora yang sangat padat yaitu membuat baju pernikahan. Akan tetapi dalam film ini diceritakan bahwa ibu sora mengalami sakit kanker sehingga dokter mengatakan bahwa hidupnya tidak akan lama lagi.
Hal ini sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Robert S. Feldman bahwa pada usia ini merupakan puncaknya seseorang beraktivitas karena memiliki kesehatan tubuh yang baik. Akan tetapi seiring bertambahnya usia maka usia diatas 25 tahun akan terlihat secara perlahan menurunnya kesehatan pada kesehatan tubuhnya. Apalagi ibu sora telah menderita sakit sehingga sangat tampak gejala yang dialami dari sakit yang dideritanya. Dan pada masa dewasa inilah dalam film ini diceritakan diketahuinya penyakit yang diderita oleh ibu sora. Karena gejala-gejala dan efeknya semakin mengganggu aktivitas sehari-hari.
2. Kemampuan sensori
Dalam film ini diceritakan bahewa profesi ibu sora adalah sebagai perancang gaun pernikahan. Tampak bagaimana ibu sora merancang gaun pengantin dengan sangat indah dihiasi oleh pernak-pernik yang dipasang dengan teliti dan jeli, dan kemampuan sensorinya yang masih bagus dalam meletakkan pernak-pernik pada gaun pernikahan.
Akan tetapi dalam film tersebut dinyatakan bahwa ibu sora menderita penyakit yang membuat hidupnya tidak lama lagi. Dan kemampuan dalam membuat wedding dress dan penempelan pernak pernik tersebut mulai terlihat tidak maksimal. Sering kali ibu sora pusing ketika terlalu lama menghias gaun pengantin dan terkadang pernak-pernik yang telah dipasang dilepas kembali karena posisi yang kurang tepat. Nah dalam hal ini terlihat bahwa kemampuan sensorinya mulai menurun karena adanya penyakit yang dideritanya dn usia yang semakin bertambah.
B. Kognitif
Dalam film ini, diceritakan terkait kekawatiran yang dihadapi oleh ibu sora ketika mengetahui bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Kekawatirannya adalah bagaimana dengan kehidupan yang akan dijalani sora setelah ketiadaannya. Bagaimana nasib sora nanti seorang diri. Kemudian ibu sora berusaha untuk mendidik sora dan mengajari sora bagaimana seharusnya sora bersikap dengan orang lain, kemampuan bersosialisasi, dan mandiri.
Menurut D.P. Keating, penulis buku "Adolescent Thinking", mengatakan bahwa ketika orang dewasa lebih mampu menyusun hipotesis daripada remaja dan menurunkan suatu pemecahan masalah dari suatu permasalahan. Mereka mungkin merencanakan dan membuat hipotesis tentang masalah-masalah seperti remaja, tetapi mereka menjadi sistematis ketika mendekati masalah sebagai orang dewasa. Meskipun banyak orang dewasa yang tidak menggunakan pemikiran operasional formal sama sekali. Hal yang dilakukan ibu sora diatas belum tentu mampu dilakukan oleh remaja. Karena dalam kodisi tubuhnya yang sedang sakit ia mampu berjuang mendidik anaknya agar tidak kesulitan ketika ditinggal ibunya kelak. Ibu sora mampu memecahkan masalah dengan sangat rapi bukan hanya mampu mengkonsep pemecahan masalah akan tetapi juga mempraktekkannya yang sebelumnya jarang sekali dilakukan karena aktivitas dalam pekerjaannya.
C. Sosial
1. Perkembangan keintiman
dalam film wedding dress diketahui bahwa ayah sora telah meninggal dunia sehingga ibu sora menjadi single mother. Dalam hal ini dapat diketahui bahwa ibu sora telah menjalani masa pernikahan. Hal ini sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Erikson bahwa pembentukan hubungan intim ini merupakan tantangan utama yang dihadapi oleh orang yang memasuki masa dewasa. Pada masa dewasa awal, orang-orang sudah siap dan ingin menyatukan identitasnya dengan orang lain. Mereka mendambakan hubungan yang intim/akrab, dilandasi rasa persaudaraan, serta siap mengembangkan daya-daya yang dibutuhkan untuk memenuhi komitmen-komitmen ini, sekalipun mereka mungkin harus berkorban. Dan dalam hal ini berarti ibu sora telah melewati masa ini karena dia telah menjalin hubungan dan menyatukan identitasnya dengan ayah sora.
2. Nilai-niilai cinta
Menurut John W Santrock, penulis buku "Child Development", mengklasifikasikan cinta menjadi 4, yaitu: altruisme, persahabatan, cinta yang romantis/bergairah, dan cinta yang penuh perasaan. Perasaan cinta pada masa ini lebih dari sekadar gairah/romantisme, melainkan suatu afeksi. cinta yang penuh perasaan dan kasih sayang. Cinta pada orang dewasa diungkapkan dalam bentuk kepedulian terhadap orang lain.
a. cinta pada anak
Dan cinta penuh perasaan inilah yang dimiliki oleh ibu Sora, dimana dia rela berkorban demi sora. Hal ini dapat dilihat ketika ibu sora mengjari sora untuk belajar sepeda dimana dia berlari dan memegangi sora hingga dia jatuh padahal saat itu ia sedang merasa kesakitan. Dan ibu sora yang meninggalkan pekerjaannya untuk bersama sora.
b. cinta persahabatan
1) teman kerja
Dalam film tersebut cinta perasaan pada sahabat dapat dilihat dari kedekatan antara ibu sora dan teman kerjanya dimana. Yang sering bercanda dan berbincang-bincang. Begitupun ketika teman kerja ibu sora mengetahui bahwa ibu sora menderita sakit Nampak perasaa empati dengan menjaga ibu sora ketika berada dirumah sakit.
2) tetangga
Dalam film tersebut diceritakan bahwa ibu sora memiliki hubungan dekat dengan tetangganya. Bahkan sora seringkali meminta bantuan pada tetangganya tersebut ketika ibunya bekerja. Bukan hanya itu, ketika diketahui bahwa ibu sora menderita sakit, maka tetangga tersebut menenangkan ibu sora untuk tidak kawatir pada sora karena dia telah menganggap sora sebagai anaknya sendiri. Dan saat itu juga untuk membiasakan sora, mereka menginap dirumah tetangga tersebut. Hingga ibu sora jatuh sakit dan tetangga tersebut membawanya kerumah sakit dan merawatnya. Dari hal ini dapat diketahui bahwa adanya hubungan sosialisasi yang baik antara ibu sora dan tetangga dan adanya perasaan cinta pada sahabat sehingga merasa sudah seperti saudara sendiri dan rela berkorban untuk itu.
Referensi :
1. Judul buku : Perkembangan Masa Dewasa dan Tua.
Penulis : Desmita
2. Judul buku : Psikologi Wanita 1 ( Mengenal Gadis Remaja dan Wanita Dewasa)
Penulis : DR. Kartini Kartono

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar